ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GANGGUAN ISPA BAB I PENDAHULUAN A new. Latar Belakang Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di negara berkembang masih merupakan masalah kesehatan yang menonjol, terutama pada anak. Penyakit ini pada anak merupakan penyebab kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi. Angka kematian ISPA di negara maju berkisar antara 10 -15%, sedangkan di negara berkembang lebih besar lagi. Di Philippines angka kematian ISPA diperkirakan mencapai 20%. Hingga saat ini salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 event ISPA setiap tahunnya.
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GANGGUAN ISPA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di negara berkembang masih merupakan masalah kesehatan yang menonjol, terutama pada anak. Penyakit ini pada anak merupakan penyebab kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi.
40% -60% dari kunjungan di puskesmas adalah oleh penyakit ISPA (Anonim,2009) B. Tujuan Penulisan Tujuan umum Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare. Tujuan khusus 1. Untuk mengetahui Pengkajian pada anak dengan diare 2. Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan pada anak dengan diare 3.
Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada anak dengan diare 4. Untuk mengetahui Implementasi keperawatan pada anak dengan diare 5. Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan pada anak dengan diare BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Konsep Dasar Penyakit 1.
Pengertian ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti: nose, ruang telinga tengah dan selaput paru Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian. System Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia.
Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah disease dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik.
Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik (Rasmaliah, 2004) 2. Etiologi Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus streptokokus, stafilokokus, pnemokokus, hemofilus, bordetella, dan korinebacterium. Pathogen penyebabnya antara lain golongan mikovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, mikoplasma, herpesvirus. Bakteri dan trojan yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya bakteri stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza yang di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri dan computer virus tersebut menyerang anak-anak usia dibawah 2 tahun yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum sempurna.
Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menimbulkan risiko serangan ISPA. Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, position gizi kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan. Patofisiologi Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu:. Tahap prepatogenesis: penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa. Tahap inkubasi: computer virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah. Tahap dini penyakit: dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk.
Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna, sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia. Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga untuk mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien. Ketahanan saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan gasoline yang ada di udara amat tergantung pada tiga unsur alami yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan epitel mukosa dan gerak mukosilia, makrofag alveoli, dan antibodi. Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu.
Selain hal itu, hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan fuel Thus2 (polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil, pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25% atau lebih). Penatalaksanaan Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan plan (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA). Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA.
Pencegahan dapat dilakukan dengan:. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik. Immunisasi. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
Prinsip perawatan ISPA antara lain:. Menigkatkan istirahat minimum 8 jam perhari. Meningkatkan makanan bergizi. Bila demam beri kompres dan banyak minum. Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih. Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat.
Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menetek Pengobatan antara lain:. Suportif: meningkatkan daya tahan tubuh berupa Nutrisi yang adekuat,pemberian multivitamin dll. Antibiotik: ü Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab ü Utama ditujukan pada S i9000.pneumonia,L.Influensa dan T.Aureus ü Menurut WHO: Pneumonia rawat jalan yaitu kotrimoksasol, Amoksisillin, Ampisillin, Penisillin Prokain,Pnemonia berat: Benzil penicillin, klorampenikol, kloksasilin, gentamisin. ü Antibiotik baru lain: Sefalosforin,quinolon dll. Pemeriksaan Diagnostik Analysis ISPA oleh karena disease dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan yang dilakukan adalah biakan virus, serologis, diagnostik computer virus secara langsung.Sedangkan diagnosis ISPA oleh karena bakteri dilakukan dengan pemeriksaan sputum, biakan darah, biakan cairan pleura. Asuhan Keperawatan Ispa 1.
Pengkajian A new. Identitas Pasien Nama: Gilang Umur: 4 bulan Jenis kelamin: laki-laki Alamat: Jalan Merpati 1 Tanggal Masuk: 23 oktober 2010 Diagnosa medis: ISPA Nama Ayah: T.indra Umur:35 tahun Pekerjaan: wiraswasta Pendidikan: SMA Suku bangsa: sunda Alamat: Jalan Merpati 1 Nama Ibu: Bu fitri Umur: 31 tahun Pekerjaan: wiraswasta Pendidikan: SMA Suku bangsa: sunda Alamat: Jalan Merpati 1 2.
Keluhan Utama: Klien mengeluh demam 3. Riwayat penyakit sekarang Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan.
Riwayat penyakit dahulu Klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang 5. Riwayat penyakit keluarga Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien tersebut.
Riwayat sosial Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan padat penduduknya 7. Pemeriksaan Fisik Difokuskan Pada Pengkajian Sistem Pernafasan v Inspeksi. Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan. Tonsil tampak kemerahan dan edema. Tampak batuk tidak produktif.
Tidak ada jaringan parut pada leher. Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping hidung.
v Palpasi. Adanya demam. Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis. Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid v Perkusi. Suara paru normal (resonance) sixth is v Auskultasi. Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru.
Diagnosa Keperawatan Peningkatan suhu tubuh bd proses infeksi Tujuan:. Suhu tubuh regular berkisar antara 36 - 37, 5 ‘ M Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan n. N anoreks Tujuan:. Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB regular. Klien dapat mentoleransi diet yang dianjurkan. Tidak menunujukan tanda malnutrisi.
Nyeri akut w.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil. Tujuan:. Nyeri berkurang / terkontrol Resiko tinggi penularan infeksi w.d tidak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun) Tujuan:.
Tidak terjadi penularan. Tidak terjadi komplikasi 9. Intervensi a. NIC:. Observasi tanda - tanda vital. Anjurkan pada klien/keluarga umtuk melakukan kompres dingin ( air biasa) pada kepala /axial.
Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun. Atur sirkulasi udara. Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 - 2500 ml/hr.
Anjurkan klien istirahat ditempat tidur selama fase febris penyakit. Kolaborasi dengan dokter: ü Dalm pemberian therapy, obat antimicrobial ü antipiretik Rasionalisasi. Pemantauan tanda essential yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan selanjutnya. Dengan menberikan kompres maka aakan terjadi proses konduksi / perpindahan panas dengan bahan perantara.
Proses hilangnya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan menyerap keringat. Penyedian udara bersih. Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat. Tirah baring untuk mengurangi metabolism dan panas. Untuk mengontrol infeksi pernapasan. Menurunkan panas c.
NIC:. Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari. Berikan makan pporsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat. Beriakan oral sering, buang key berikan wadah husus untuk sekali pakai dan tisu. dan ciptakan lingkungan beersih dan menyenamgkan. Tingkatkan tirai baring. Konsul ahli gizi untuk memberikan diet plan sesuai kebutuhan klien Rasionali.
Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori menyusun tujuan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Untuk menjamin nutrisi adekuat/ meningkatkan kalori overall.
Nafsu makan dapt dirangsang pada situasi rilek, bersih dan menyenangkan. Untuk mengurangi kebutuhahan metabolic. Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal. NIC:. Teliti keluhan nyeri,catat intensitasnya (dengan skala 0 - 10), factor memperburuk atau meredakan lokasimya, lamanya, dan karakteristiknya.
Anjurkan klien untuk menghindari allergen / iritan terhadap debu, bahan kimia, asap,rokok.Dan mengistirahatkan/meminimalkan berbicara bila suara serak. Anjurkan untuk melakukan kumur air flow garam hangat Rasional. Identifikasi karakteristik nyeri factor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok untuk mengevaluasi ke efektifan dari terapi yang diberikan. Mengurangi bertambah beratnya penyakit. Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan.
Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi / menghambat pengeluaran histamine dalam inflamadi pernapasan. Analgesic untuk mengurangi rasa nyeri d. NIC:.
Batasi pengunjung sesuai indikasi. Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktifitas. Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin, jika ditutup dengan tisu buang segera ketempat sampah. Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak usia dibawah 2 tahun, lansia dan penderita penyakit kronis. Dan konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh menurun / asupan makanan berkurang. Kolaborasi Pemberian obat sesuai hasil kultur Rasional.
Menurunkan potensial terpalan pada penyakit infeksius. Menurunkan konsumsi /kebutuhan keseimbangan O2 dan memperbaiki pertahanan.
Klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan. Mencegah penyebaran virus melalui cairan. Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi.
Dapat diberikan untuk organiasme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas /atau di berikan secara profilatik karena resiko tinggi 10. Implementasi v Peningkatan suhu tubuh w.d proses infeksi. Mengukur tanda tanda vital. Mengompres kepala atau aksila dingan mengunakan air dingin. Memerikan penjelasan kepada klien tentang manfaat mengunakan pakaian berbahan tipis. Memberikan obat penurun panas sesuai dengan dosis dan tepat waktu v Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan w.chemical anoreksia. Membantu jenis dan makanan yang dimakan klien.
Membuat catatan makanan harian. Keep track of lingkungan selama klien makan. Monitor intake nutrisi v Nyeri akut m.d inflamasi pada membrane mukosa faring dan tonsil. Tingkatkan istirahat. Berikan informasi tentang nyeri kepada keluarga anak,seperti penyebab nyeri berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidak nyamanan dari prosedur.
Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama kali. sixth is v Resiko tinggi penularan infeksi m.d tidak kuatnya pertahanan sekunder. Membatasi pengunjung. Mempertahankan teknik isolasi. Memperbanyak istirahat 11. Evaluasi Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan myocarditis (Doenges, 1999) adalah:. Suhu tubuh pasien dalam rentang normal antara 36 -37,5 D.
Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB regular. Nyeri hilang atau terkontrol. Tidak terjadi komplikasi pada klien BAB III PENUTUP Kesimpulan Seperti yang diuraikan diatas bahwa ISPA mempunyai variasi klinis yang bermacam-macam, maka timbul persoalan pada pengenalan (diagnostik) dan pengelolaannya. Sampai saat ini belum ada obat yang khusus antivirus. Idealnya pengobatan bagi ISPA bakterial adalah pengobatan secara rasional.
Pengobatan yang rasional adalah apabila pasien mendapatkan antimikroba yang tepat sesuai dengan kuma penyebab. Untuk dapat melakukan hal ini, kuman penyebab ISPA dideteksi terlebih dahulu dengan mengambil material pemeriksaan yang tepat, kemudian dilakukan pemeriksaan mikrobiologik, baru setelah itu diberikan antimikroba yang sesuai. Saran.
Semoga makalah sederhana ini dapat menjadi ilmu yang bermanfaat bagi pembaca. makalah ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembaca terutama perawat dalam membuat asuhan keperawatan.
Dalam melakukan kómunikasi pada anak pérawat perlu memperhatikan bérbagai aspek diantaranya adaIah usia tumbuh kémbang anak, cara bérkomunikasi pada anak, métode dalam berkomunikasi páda anak,tahapan átau langkah langkah daIam melakukan komunikasi déngan anak serta péran orang tua daIam membantu proses kómunikasi dengan anak séhingga bisa didapatkan infrómasi yang benar dán akurat. Perkembangan páda anak usiá ini dapat dimuIai dengan kemampuan ának mencetak, menggambar, mémbuat huruf atau tuIisan yang besar dán apa yang diIaksanakan oleh anak méncerminkan pikiran anak dán kemampuan anak mémbaca disini sudah muncuI, pada usia ké delapan anak sudáh mampu membaca dán sudah mulai bérfikir tentang kehidupan.
DaIam pemahaman keIurga yg terluas, keIurga merujuk pada sémua individu yg pénting dalam unit inti, termasuk kerabat, teman, dan kelompok cultural lain, seperti sekoIah dan tempat ibádah. Metode yg Iebih umum untuk méndapatkan informasi téntang struktur dán fungsi keluarga adaIah dengan mewawancarai anggóta keluarga. Namun, bányak alat pengakajian keIuarga yg dapat digunákan untuk mengumpulakan dán mencatat data tentang komposisi keluarga, lingkungan, dan hubungan secara grafikal. Alat-alat tersebut mencakup kuesioner dan diagram. Informasi tentang masukan diet selalu dimulai dengan riwayat diet plan dan dapat digábungkan dengan jumlah másukan makanan real yg mendetil.
Dua metode pencatatan masukan makanan adalah buku harian makanan dan catatan frekuensi makanan. Buku harian makanan adalah suatu catatan tentang setiap makanan dan cairan yg di konsumsi selama jumlah hari tertentu, biasanya 2 minggu dan 1 hari akhir pecan. Catatan frekuensi makanan memberikan informasi tentang hal-hal frekuensi makanan dalam sehari atau seminggu dari meals tutorial pyramid yg dikónsumsi. Diagnosa keperawatan tidák menggambarkan semua yáng dilakukan dalam képerawatan. Praktik keperawatan térdiri dari tiga jénis aktivitas: tergantung, saIing tergantung, dan mándiri. Sebutan untuk tindákan berbeda béda untuk setiap sumbér penulisan.
Aktifitas Dépenden adalah area praktik keperawatan yang memegang tanggung gugat perawat untuk menginplementasikan system medis yang diténtukan. Aktifitas interdependen adaIah region praktik keperawatan dimana tanggung jawab medis dan keperawatan serta tanggung gugatnya tumpang tindih dan memerlukan kolaborasi. Aktivitas independen adalah region praktik keperawatan yáng merupakan tanggung jáwab langsung dari pérawat individu. Diagnosa Eleventh Meeting on Category of Medical Diagnosi dán disusun berdasarkan prióritas.
Diagnosa keperawatan yáng tercantum pada unit ini hanya mewakili satu interpretasi. Beberapa diagnosa saling berhubungan erat dan seringkali sulit untuk menentukan diagnosa mana yang paling baik mewakili tujuan yang diberikan. Diagnosa dan intervensi keperawatan yang dicantumkan menjadi pedoman umum asuhan keperawatan anak gangguan kesehatan, oleh karna itu masih ada hal lain yang harus ditambahkan sendiri oleh pengguna pada perawatan individu anak-anak atau keluarga. Intervensi ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang responsif dan kontingen dapat dikembangkan di sekitar kedua interaksi sosial (misalnya, pengasuh dan bayi) dan non-sosial lingkungan antar-tindakan (misalnya, bayi bermain dengan mainan). Pengasuh dapat dibantu untuk membaca isyarat bayi dan segera merespon dan kontra-sistently kepada mereka petunjuk. Misalnya, bayi muda dapat membuat beberapa jenis menangis. Intervensionis dini dapat membantu orang tua dan lainnya yang signifikan pemberi perawatan untuk memahami betapa sulitnya hal ini dan juga membantu mereka untuk 'membaca' berbagai teriakan.
Setelah pengasuh dapat membedakan dan menanggapi secara konsisten untuk menangis khusus, sistem komunikasi antara bayi dan pengasuh ditingkatkan. Banyak bayi cacat atau mereka yang lahir beresiko isyarat terdapat perilaku atipikal dan / atau labil dan gelisah. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan interaksional. Strategi untuk membantu pengasuh dijelaskan lebih lengkap dalam bagian berikut berurusan dengan mengoptimalkan lingkungan rumah.
Lingkungan fisik atau non-sosial anak juga dapat dimodifikasi untuk menjadi lebih responsif.penelitian tentang efek stimulasi kontingen dan non-kontingen pada belajar bayi menunjukkan bahwa bayi perlu responsif, lingkungan kontingen untuk belajar dan termotivasi untuk belajar. Sebaliknya, lingkungan di mana mereka hanya menerima stimulasi noncontingent (yaitu, penanganan, pendengaran, dan visual rangsangan yang dibuát tersedia untuk báyi tapi sama sekaIi tidak berhubungan déngan atau tergantung páda tindakan bayi) dápat menghasilkan efek yáng merugikan dan ményebabkan bayi untuk 'menghiIangkan' atau mundur. Pényediaan lingkungan yang résponsif kontingen konsisten déngan pandangan bayi méngembangkan ditegakkan dalam pándangan-buku dari báyi sebagai pembelajar áktif. Tindakan keperawatan átau implementasi merupakan peIaksanaan perencanaan oleh pérawat dan klien. HaI-hal yang hárus diperhatikan ketika meIakukan implementasi adalah intérvensi yang dilakukan sésuai dengan rencana seteIah dilakukan validasi, pénguasaan keterampilan social, intelektual dan teknikal. Intervensi harus dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, kemampuan fisik, psikologis dilindungi dan didokumetasikan keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan tindakan keperawatan/ implementasi adalah harus disesuaikan dengan rencana, harus cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis dilindungi. Evaluasi merupakan proses yang kontinyu dan penting untuk menjamin kualitas serta ketepatan perawatan yang diberikan, yang dilakukan dengan meninjau respon klien untuk menentukan keefektifan rencana keperawatan (Doenges, 1999). Tujuan evaluasi adalah memberikan umpan balik rencana keperawatan, menilai dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan melalui perbandingan pelayanan keperawatan yang diberikan serta hasilnya sesuai dengan standar yang telah ditentukan terlebih dahulu. Kemudahan atau kesulitan evaluasi dipengaruhi oleh kejelasan tujuan dan bisa tidaknya tujuan tersebut diukur.
Disamping evaluasi yang dilakukan oleh perawat bertanggungjawab pada klien, pelayanan keperawatan yang diberikan kepada klien dapat dinilai juga oleh klien sendiri, teman kerja perawat dan pimpinan administrasi. Evaluasi tanggung gugat pelayanan keperawatan serta menentukan tindakan yang efektif dan tidak efektif. Pada tanggal 22 september 2012 pukul 05.00 klien mengalami batuk dan pilek disertai badan panas. Klien sudah menderita batuk dan pilek sejak 10 hari yang lalu dan hanya diberikan obat batuk anak yang dibeli dari warung di sekitar rumah, tetapi keadaan klien tidak mengalami banyak perubahan dan berat badan anak A new. Orang tua ménganggap keadaan klien hárus segera dibawa bérobat dan memutuskan ké rumah sakit lslam Samarinda. Setelah diIakukan pemeriksaan oleh doktér jaga lGD RS Islam Sámarinda, klien disárankan untuk rawat ináp pada ruang pérawatan anak.
Selanjutnya kIien di ráwat di ruáng pinus. Kéadaan hidung simétris kiri dan kánan, terdapat pergerakan páda cuping hidung sáat bernafas, terdapat akumuIasi sekret pada Iubang hidung sehingga kesuIitan bernafas, tidak áda polip, septum nasal tidak deviasi, tidak epistaksis dan sinus tidak nyeri atau kemerahan. Pada leher, kelenjer thyroid tidak membesar, letak trakhea lurus dan tidak terlihat distensi vena jugularis. Dada berbentuk normochest, ekspansi dinding dada simetris kiri dan kanan, tidak terdapat fraktur atau lesi atau nyeri tekan pada dinding dada, bunyi nafas vesikuler dan tidak terdengar adanya bunyi nafas adventisious seperti wheezing, krakles, ronchi atau gesekan pleural.
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GANGGUAN ISPA BAB I PENDAHULUAN A new. Latar Belakang Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di negara berkembang masih merupakan masalah kesehatan yang menonjol, terutama pada anak. Penyakit ini pada anak merupakan penyebab kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi. Angka kematian ISPA di negara maju berkisar antara 10 -15%, sedangkan di negara berkembang lebih besar lagi. Di Philippines angka kematian ISPA diperkirakan mencapai 20%. Hingga saat ini salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.
40% -60% dari kunjungan di puskesmas adalah oleh penyakit ISPA (Anonim,2009) B. Tujuan Penulisan Tujuan umum Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare. Tujuan khusus 1. Untuk mengetahui Pengkajian pada anak dengan diare 2.
Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan pada anak dengan diare 3. Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada anak dengan diare 4. Untuk mengetahui Implementasi keperawatan pada anak dengan diare 5. Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan pada anak dengan diare BAB II TINJAUAN TEORITIS A.
Konsep Dasar Penyakit 1. Pengertian ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah body organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti: sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian. Convert iphone serial number to imei.
Plan Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia.
Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah pathogen dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik (Rasmaliah, 2004) 2. Etiologi Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, disease, dan jamur. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus streptokokus, stafilokokus, pnemokokus, hemofilus, bordetella, dan korinebacterium.
Trojan penyebabnya antara lain golongan mikovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, mikoplasma, herpesvirus. Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya bakteri stafilokokus dan streptokokus serta disease influenza yang di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-anak usia dibawah 2 tahun yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum sempurna.
Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menimbulkan risiko serangan ISPA. Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, standing gizi kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan. Patofisiologi Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu:. Tahap prepatogenesis: penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa. Tahap inkubasi: disease merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
Tahap dini penyakit: dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna, sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia. Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga untuk mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien.
Ketahanan saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan gasoline yang ada di udara amat tergantung pada tiga unsur alami yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan epitel mukosa dan gerak mukosilia, makrofag alveoli, dan antibodi. Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu.
Selain hal itu, hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan fuel SO2 (polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil, pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25% atau lebih). Penatalaksanaan Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan system (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA). Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat.
Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA. Pencegahan dapat dilakukan dengan:. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
Immunisasi. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
Prinsip perawatan ISPA antara lain:. Menigkatkan istirahat minimum 8 jam perhari. Meningkatkan makanan bergizi. Bila demam beri kompres dan banyak minum. Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih.
Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat. Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menetek Pengobatan antara lain:. Suportif: meningkatkan daya tahan tubuh berupa Nutrisi yang adekuat,pemberian multivitamin pill dll. Antibiotik: ü Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab ü Utama ditujukan pada H.pneumonia,L.Influensa dan T.Aureus ü Menurut WHO: Pneumonia rawat jalan yaitu kotrimoksasol, Amoksisillin, Ampisillin, Penisillin Prokain,Pnemonia berat: Benzil penicillin, klorampenikol, kloksasilin, gentamisin.
ü Antibiotik baru lain: Sefalosforin,quinolon dll. Pemeriksaan Diagnostik Analysis ISPA oleh karena computer virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan yang dilakukan adalah biakan computer virus, serologis, diagnostik virus secara langsung.Sedangkan medical diagnosis ISPA oleh karena bakteri dilakukan dengan pemeriksaan sputum, biakan darah, biakan cairan pleura. Asuhan Keperawatan Ispa 1.
Pengkajian A new. Identitas Pasien Nama: Gilang Umur: 4 bulan Jenis kelamin: laki-laki Alamat: Jalan Merpati 1 Tanggal Masuk: 23 oktober 2010 Diagnosa medis: ISPA Nama Ayah: Capital t.indra Umur:35 tahun Pekerjaan: wiraswasta Pendidikan: SMA Suku bangsa: sunda Alamat: Jalan Merpati 1 Nama Ibu: Bu fitri Umur: 31 tahun Pekerjaan: wiraswasta Pendidikan: SMA Suku bangsa: sunda Alamat: Jalan Merpati 1 2. Keluhan Utama: Klien mengeluh demam 3. Riwayat penyakit sekarang Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan. Riwayat penyakit dahulu Klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang 5. Riwayat penyakit keluarga Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien tersebut. Riwayat sosial Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan padat penduduknya 7.
Pemeriksaan Fisik Difokuskan Pada Pengkajian Sistem Pernafasan sixth is v Inspeksi. Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan. Tonsil tampak kemerahan dan edema. Tampak batuk tidak produktif.
Tidak ada jaringan parut pada leher. Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping hidung.
sixth is v Palpasi. Adanya demam. Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis. Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid sixth is v Perkusi.
Suara paru regular (resonance) sixth is v Auskultasi. Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru. Diagnosa Keperawatan Peningkatan suhu tubuh bd proses infeksi Tujuan:. Suhu tubuh normal berkisar antara 36 - 37, 5 ‘ G Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan t.
G anoreks Tujuan:. Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal.
Klien dapat mentoleransi diet yang dianjurkan. Tidak menunujukan tanda malnutrisi. Nyeri akut n.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil. Tujuan:. Nyeri berkurang / terkontrol Resiko tinggi penularan infeksi w.d tidak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun) Tujuan:.
Tidak terjadi penularan. Tidak terjadi komplikasi 9. Intervensi a. NIC:. Observasi tanda - tanda vital.
Anjurkan pada klien/keluarga umtuk melakukan kompres dingin ( air flow biasa) pada kepala /axial. Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun. Atur sirkulasi udara. Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 - 2500 ml/human resources. Anjurkan klien istirahat ditempat tidur selama fase febris penyakit. Kolaborasi dengan dokter: ü Dalm pemberian therapy, obat antimicrobial ü antipiretik Rasionalisasi.
Pemantauan tanda important yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan selanjutnya. Dengan menberikan kompres maka aakan terjadi proses konduksi / perpindahan panas dengan bahan perantara. Proses hilangnya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan menyerap keringat. Penyedian udara bersih. Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat. Tirah baring untuk mengurangi rate of metabolism dan panas. Untuk mengontrol infeksi pernapasan.
Menurunkan panas m. NIC:. Kaji kebiasaan diet plan, input-output dan timbang BB setiap hari. Berikan makan pporsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat. Beriakan oral sering, buang secret berikan wadah husus untuk sekali pakai dan tisu. dan ciptakan lingkungan beersih dan menyenamgkan. Tingkatkan tirai baring.
Konsul ahli gizi untuk memberikan diet plan sesuai kebutuhan klien Rasionali. Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori menyusun tujuan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Untuk menjamin nutrisi adekuat/ meningkatkan kalori total. Nafsu makan dapt dirangsang pada situasi rilek, bersih dan menyenangkan.
Untuk mengurangi kebutuhahan metabolic. Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal. NIC:. Teliti keluhan nyeri,catat intensitasnya (dengan skala 0 - 10), aspect memperburuk atau meredakan lokasimya, lamanya, dan karakteristiknya.
Anjurkan klien untuk menghindari allergen / iritan terhadap debu, bahan kimia, asap,rokok.Dan mengistirahatkan/meminimalkan berbicara bila suara serak. Anjurkan untuk melakukan kumur atmosphere garam hangat Rasional. Identifikasi karakteristik nyeri aspect yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok untuk mengevaluasi ke efektifan dari terapi yang diberikan.
Mengurangi bertambah beratnya penyakit. Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan. Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi / menghambat pengeluaran histamine dalam inflamadi pernapasan. Analgesic untuk mengurangi rasa nyeri d. NIC:.
Batasi pengunjung sesuai indikasi. Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktifitas. Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin, jika ditutup dengan tisu buang segera ketempat sampah. Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak usia dibawah 2 tahun, lansia dan penderita penyakit kronis. Dan konsumsi vitamin G, A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh menurun / asupan makanan berkurang. Kolaborasi Pemberian obat sesuai hasil kultur Rasional. Menurunkan potensial terpalan pada penyakit infeksius.
Menurunkan konsumsi /kebutuhan keseimbangan O2 dan memperbaiki pertahanan. Klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan. Mencegah penyebaran pathogen melalui cairan.
Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi. Dapat diberikan untuk organiasme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas /atau di berikan secara profilatik karena resiko tinggi 10.
Implementasi v Peningkatan suhu tubuh t.d proses infeksi. Mengukur tanda tanda vital. Mengompres kepala atau aksila dingan mengunakan atmosphere dingin. Memerikan penjelasan kepada klien tentang manfaat mengunakan pakaian berbahan tipis. Memberikan obat penurun panas sesuai dengan dosis dan tepat waktu v Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan t.chemical anoreksia. Membantu jenis dan makanan yang dimakan klien. Membuat catatan makanan harian.
Keep track of lingkungan selama klien makan. Monitor intake nutrisi v Nyeri akut b.d inflamasi pada membrane mukosa faring dan tonsil. Tingkatkan istirahat. Berikan informasi tentang nyeri kepada keluarga anak,seperti penyebab nyeri berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidak nyamanan dari prosedur. Monitor vital indication sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama kali. v Resiko tinggi penularan infeksi m.d tidak kuatnya pertahanan sekunder.
Membatasi pengunjung. Mempertahankan teknik isolasi. Memperbanyak istirahat 11. Evaluasi Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan myocarditis (Doenges, 1999) adalah:. Suhu tubuh pasien dalam rentang regular antara 36 -37,5 C. Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB regular. Nyeri hilang atau terkontrol.
Tidak terjadi komplikasi pada klien BAB III PENUTUP Kesimpulan Seperti yang diuraikan diatas bahwa ISPA mempunyai variasi klinis yang bermacam-macam, maka timbul persoalan pada pengenalan (diagnostik) dan pengelolaannya. Sampai saat ini belum ada obat yang khusus antivirus. Idealnya pengobatan bagi ISPA bakterial adalah pengobatan secara rasional. Pengobatan yang rasional adalah apabila pasien mendapatkan antimikroba yang tepat sesuai dengan kuma penyebab. Untuk dapat melakukan hal ini, kuman penyebab ISPA dideteksi terlebih dahulu dengan mengambil material pemeriksaan yang tepat, kemudian dilakukan pemeriksaan mikrobiologik, baru setelah itu diberikan antimikroba yang sesuai. Saran.
Semoga makalah sederhana ini dapat menjadi ilmu yang bermanfaat bagi pembaca. makalah ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembaca terutama perawat dalam membuat asuhan keperawatan.